Kamis, 12 Agustus 2010

Bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah !!!
Kamis, Juni 12, 2008
Ki Bagus Hadikusuma

Ki Bagus Hadikusuma dilahirkan pada tanggal 24 November 1890 di Kauman, Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Raden Dayat atau Hidayat. Ayahnya, Raden Kaji Lurah Hasyim adalah seorang abdi dalem Bidang Keagamaan Kraton Yogyakarta semasa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Ki Bagus Hadikusuma wafat pada tahun 1954.


Latar Belakang Pendidikan

Ki Bagus Hadikusuma mengenyam pendidikan resmi hanya sampai tahap Sekolah Rakyat (SR). Beliau sempat menjadi santri di Pesantren Wonokromo (Yogyakarta) dan Pekalongan. Kemahirannya dalam Sastra Jawa, Bahasa Melayu dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Karya Tulisan

Ki Bagus sempat menulis beberapa karya dalam bahasa Jawa, antara lain: Pustaka Hati (6 jilid dalam bahasa Jawa halus), Katresnan Jati (3 jilid), tafsir Juz Amma, Ruhul Bayan, Pustaka Iman, Pustaka Ikhsan, dan Pustaka Islam.

Organisasi

Di masa muda, sempat aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama `Setambul'. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh KH Mas Mansur untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga tahun 1953.
Diposkan oleh AHMAD JAYADI di 22.23.00 2 komentar Link ke posting ini
PENGARUH KEPANDUAN HW PADA ANAK DIDIK SEHARI-HARI


Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan diluar Pendidikan formal, namun kenyataannya Kepanduan HW tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan formal, seperti di sekolah perguruan Muhammadiyah dengan istilah Qabilah dimana Kepala Sekolah adalah penanggung jawab pendidikan Kepanduan Hizbul Wathan.

Upacara pembukaan dan penutupan latihan kepanduan Hizbul Wathan terbilang biasa. Namun bila diformat dengan cara lain, nampaknya akan terasa istimewa. Kemasan itu misalnya saja dengan membuat acara tambahan yang memiliki implikasi (pengaruh) positif bagi peserta didik Pandu HW.

Ada beberapa sajian acara tambahan yang bisa dipilih oleh Pemimpin Pandu HW dalam rangka melakukan pembinaannya (Pelantikan, penyematan tanda kecakapan, pemberangkatan kontingen dll). Amat tergantung pada selera dan target (muatan utama) pembinaan masing-masing. Semisal permainan/Game, kecerdasan, pengetahuan dan lain-lain. Acara tambahan itu, sesuai dengan namanya harus singkat, padat dan tidak membosankan. Jangan lupa, saran para ahli bahwa upacara latihan supaya dilakukan dalam waktu singkat. Bila upacara memakan waktu 20 menit, maka untuk 4 menit di antaranya bisa diisi oleh acara tambahan tadi.

Macam tema yang disampaikan oleh pembina/pemimpin pandu HW saat memberikan sambutan/santapan rohani agaknya juga bijaksana kalau mengutamakan materi materi yang sederhana, mudah dicerna, singkat, padat, dan sarat isi. Tak kalah menarik, waktu sajian tepat bila dikemas dengan kisah-kisah teladan yang pendek, namun memuat nilai-nilai yang baik (Ahlakqul Karimah). Sama halnya dengan kegiatan santapan rohani, dengan tujuan agar anggota Pandu HW dapat berdisiplin belajar.

Pengaruh sajian / santapan rohani pada upacara latihan peserta didik kepanduan Hizbul Wathan terhadap disiplin peserta upacara juga akan berpengaruh positif sehari–hari kepada anggota Pandu HW, baik dirumah maupun di tempat lain. Kegiatan kepanduan HW jelas jelas berdimensi, salah satunya membentuk kedisiplinan diri.

Dalam kegiatan pembelajaran seseorang hendaknya berperilaku disiplin, baik sebelum datang ke arena latihan dengan datang tepat pada waktunya; ketika proses latihan sedang berlangsung dengan menyimak dan memperhatikan setiap materi latihan yang disampaikan oleh Pemimpin pandu sebagai seorang pembina anak didik, maupun setelah proses pembinaanya dalam latihan itu berakhir dengan mencek kembali materi yang telah diterima untuk dipelajari. Artinya setiap peserta didik harus melakukan disiplin diri seoptimal mungkin. Hal ini, karena pada dasarnya pencapaian tujuan pembinaan, dalam bentuk pemahaman dan kemengertian bahasan akan dapat diraih manakala anak didik pandu HW mau belajar itu melakukan disiplin.

Disiplin dalam pengertian yang amat dasar ada dua. 1) Ketaatan pada tata tertib, 2) Latihan batin dan watak dengan maksud akan mentaati peraturan ( Poerwadarminta, 1985;254) sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1993;114) arti disiplin adalah kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan tata tertib, karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada hatinya.

Dilihat dari sudut pandang sosiologis dan psikologis, disiplin adalah suatu proses belajar mengembangkan kebiasaan–kebiasaan, penugasan diri, dan mengakui tanggung jawab pribadinya terhadap masyarakat, Maka kedisiplinan anak didik dalam mengikuti suatu kegiatan Kepanduan HW pun akan menimbulkan sikap tanggung jawab, atau disiplin dalam menghadapi pelajaran atau dalam belajarnya.

Santapan rohani pada upacara bendera setiap hari Senin maupun santapan rohani pada upacara pembukaan latihan HW diharapkan dapat menciptakan suasana disiplin dalam belajar, sehingga dapat mencapai target maksimal dari tujuan belajar. Dalam kaitannya dengan santapan rohani pada upacara bendera pembukaan latihan HW, disiplin atau ketaatan pada peraturan anak didik merupakan sarana bagi berlangsungnya pembentukan disiplin anak didik sehari–hari. Tentunya, hal itu menggambarkan upaya anak didik untuk dapat maju dan berprestasi lebih baik lagi. Karena disiplin merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan belajar. Untuk memperolah indikator disiplin yang diharapkan secara optimal dari pelaksanaan santapan rohani pada upacara bendera latihan HW, memang diperlukan adanya data tanggapan anak didik pandu HW sebagai umpan balik. Kendati demikian, Pemimpin Pandu HW sebagai pembina bisa saja menggunakan tanggapan hasil pengamatan yang merupakan gambaran, dan kesan dari pengamatan yang diperbuat anak didik HW. Sejalan dengan pendapat Ibu Zakiyah Derajat (1995.26) yang mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi belajar di antaranya adalah tanggapan. Yaitu tindakan atau perubahan batin yang mempersiapkan organisme jasmaninya untuk bertindak.

Tanggapan anak didik dalam proses pembinaan terbagi pada dua kemungkinan. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Sikap yang menerima akan menimbulkan perilaku seperti; diam penuh perhatian dan ikut berpartisipasi aktif. Sedangkan sikap yang menolak, akan nampak pada perilaku negatif, misalnya bermain, mengalihkan perhatian, mengganggu teman, bahkan mempermainkan pembina (Sardiman, 1992;215). Sementara itu Rita L. Afkinson (1993;371) berpendapat bahwa tanggapan secara fundamental terikat pada kenyataan pembina yang disenangi atau tidak disenangi.

Dari beberapa uraian di atas, dapat diambil benang merahnya bahwa indikator tanggapan anak didik HW meliputi : 1) Keinginan untuk bertindak/berpartisipasi 2) Mendengarkan 3) Melihat 4) Menimbulkan /membangkitkan perasaan 5) mengamati. Sedangkan untuk mengetahui indikator disiplin, CeceWijaya (1990:1 8) yang menyatakan, bahwa disiplin bisa dibentuk melalui: 1) Kataatan pada aturan 2) menjujung tinggi etika 3) Kesadaran diri pada norma 4) Menggunakan waktu belajar 5) Keteraturan waktu belajar. Dengan indikator indikator itu, sepertinya pembina akan mengenali tingkat ketercapaian disiplin anak didik HW dari proses pembinaan melalui santapan rohani pada Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan Kepanduan Hizbul Wathan. Atas inspirasi penelitian itu, yang pernah dilakukan oleh Pandu Hizbul Wathan, telah dikemukakan ada kolerasi antara kedua variabel, tanggapan anak didik HW tentang santapan rohani pada upacara bendera saat latihan maupun upacara bendera setiap hari Senin. Dan pengaruhnya terhadap disiplin anak didik HW adalah signifikan. Artinya, memiliki kaitan yang saling mengikat dan memberi pengaruh antara keduanya. Hal itu, akan lebih bermanfaat bila kita mengakomodasi pola penerapan santapan rohani pada kegiatan upacara latihan Kepanduan Hizbul Wathan.

Sedangkan dilihat dari tinggi rendahnya pengaruh, seperti halnya hasil penelitian tersebut, ternyata ada faktor lain yang bisa mempengaruhi disiplin anak didik HW sehari-hari, maka untuk mensikapi hal ini apabila kita mengharapkan disiplin anak didik yang lebih tinggi sehari-hari, kiranya akan lebih bijak apabila pembina pandu HW memberikan santapan rohani dengan pelbagai ragam dan corak sajian. Sehingga memberikan daya tawar munculnya motivasi anak didik untuk mengikuti santapan rohani pada upacara bendera pembukaan dan penutupan latihan Kepanduan Hizbul wathan dengan sungguh-sungguh. Petikan dari Buku (Mansur Asy’arie)

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan terpanggil ikut menghiasi khazanah sejarah Republik Indonesia dalam bentuk pengejawantahan dinamika dan semangat juang yang tak pernah henti dengan metode Kepanduan serta ikhtiar Membangun Manusia Indonesia seutuhnya.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 

Sekolah Tercinta

Anggota

Tentang Kita

Foto saya
Adalah Dewan Yang Dibentuk Untuk Mengakomodir Suara-Suara Anggota Hizbul Wathan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Berdiri Bertepatan Pada tanggal 1 Juni 2003, Kepanduan Hizbul Wathan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta secara resmi dideklarasikan dan diresmikan oleh Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kota Yogyakarta.